SANTRI/SISWA KELAS XII MA NUURUL WAAHID PURWOREJO HAFAL AL-QUR’AN 30 JUZ

Diposting pada

(HUMAS MA NUURUL WAAHID).Ikhsan Khairul  Muttaqin dengan nama panggilan “IKHSAN” Tahfidzul Qur’an Ponpes Nurul Wahid Purworejo berhasil menghafal 30 juz Al Qur’an. Proses menghafal dilakukannya selama tiga tahun sejak masuk Madrasah Aliyah Nurul Waahid Purworejo.

Ikhsan bercerita tentang kiatnya memasukan seluruh ayat Al Quran ke dalam memorinya. Sejak awal, ananda memang memiliki minat menjadi seorang hafidz Al Qur’an. Untuk itu, ananda mendaftar ke Madrasah Aliyah Nuurul Waahid Purworejo, lembaga pendidikan Islam yang memiliki program unggulan tahfidzul Qur’an dan jurusan MIA (Matematika dan Ilmu Alam). Di Madrasah yang terletak di Jln. Besole- Krandegan  Km 04 Bayan, Purworejo Jawa Tengah.

Ikhsan digembleng hafalan dengan beban setoran satu halaman per hari. Proses itu dilakoninya dengan tekun hingga berhasil khatam dalam tempo tiga tahun. Padahal di lembaga ini, Ikhsan tidak hanya mendapat beban hafalan saja, tetapi juga mendapat pendidikan fomal sebagaimana sekolah biasa. Anak lelaki berkulit cokelat ini bercerita tentang kiatnya membagi waktu dan menjaga agar “setoran” dapat dilakukan dengan lancar. “Ustadz selalu ngendikan (menyampaikan), baca dulu berulang kali ayatnya, jika sudah yakin maka coba untuk menghafal tanpa melihat Al Qur’an,” ujar ananda, ahad (04/09/2022). Menurut ananda, terdapat hal-hal non teknis yang membuat proses belajarnya mendapat kemudahan. Ikhsan selalu minta doa bapak ibu, niat sungguh-sungguh, serta tidak boleh mengantuk apalagi ngobrol ketika hafalan, sama ustadz harus hormat dan patuh agar bisa cepat hafal,” ungkapnya dengan lugu.

Prestasi akademik ditingkatkan

Kepala  Madrasah Aliyah Bpk. Aman Supriyono, S.Sy menyampaikan, Madrasah yang dipimpinnya, selain mengedepankan prestasi akademik juga memberikan hafalan Al Qur’an bagi seluruh siswa yang masuk di MA Nuurul Waahid Purworejo. Pelajaran sekolah dan hafalan Al Qur’an, beliau mengaku merupakan beban yang cukup  berat bagi siswa, namun dengan kehidupan di pesantren yang terkontrol 24 jam, internalisasi ilmu dan karakter menjadi maksimal. Madrasah yang dipimpinnya tidak ingin memproduksi orang pintar saja, tetapi harus disertai etika dan akhlak yang baik sesuai tuntunan Al Qur’an

Tidak mudah menciptakan generasi Qur’ani yang juga memiliki kapabilitas akademik. Beban yang berat itu menuntut partisipasi penuh antara pihak madrasah, siswa, dan juga dukungan spiritual dari orangtua. “Doa dan tirakat orang tua sangat membantu lancarnya hafalan para santri/siswa,” . Terkadang ada juga anak yang mogok hafalan “ucap Kepala Madrasah

Bila ini terjadi, madrasah akan mengkomunikasikannya dengan 4 pihak, antara lain pengasuh pesantren, ustaz, BK ,dan orangtua. “Bila semuanya bertindak positif, biasanya ada solusi dan pembelajaran berjalan kembali,”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.